BUBBLE ECONOMICS


Siapa bilang angka 1.000 tidak banyak membuat perbedaan ?
Letakkan ”USD” di depannya, maka kita bisa ke Mangga Dua dan mendapatkan satu unit notebook kelas menengah plus printer.
Letakkan ”Rp” di depannya, maka jadilah ia sehelai kertas yang hanya cukup untuk membayar pak pengatur parkir kendaraan ketika kita berhenti membeli obat di apotik. Itupun seringkali dia minta tambah 1000 lagi, jika yang kita parkir adalah mobil.
Materialisme, kapitalisme dan liberalisme adalah ilmu yang sangat sederhana. Tidak perlu satu semester untuk belajar bagaimana mekanisme penguasaan dan eksploitasi sumber ekonomi oleh yang kuat terhadap yang lemah, bagaimana instrumen ekonomi makro dan mikronya bekerja, dan lain-lain. Cukup kita buka sebuah buku tipis dengan judul ”Kurs / Nilai Tukar Mata Uang” maka kita sudah dapat memahami prinsip kerjanya. Karena cukup dengan itulah, negara-negara besar mengatur, mengendalikan dan menguasai negara lain. Tidak menguasai negaranya secara de yure, namun aset-aset riil di dalamnya. Inilah intisari dari PERANG EKONOMI yang kita kenal sejak lama.
Komoditas mana, yang jika di-ekspor, paling menguntungkan Amerika ? Jawabannya jelas : THE GREEN atau US Dollar itu sendiri. Komoditas ini yang terus digelontorkan keluar dari Amerika, dan dengan lihainya mereka tetapkan ia menjadi patokan untuk hampir seluruh transaksi di dunia. Sehingga dengan hanya memain-mainkan sentimen yang mempengaruhi nilai tukar, atau dengan spekulasi tertentu, komoditas tak berharga itu bisa menghancur-hancurkan ekonomi sebuah negara, kemudian dengan menggunakan topeng MALAIKAT PENOLONG bernama IMF, barat datang menjajakan berbagai formula ekonomi yang ujung-ujungnya memaksa negara yang dibantu untuk menyerahkan bulat-bulat aset-aset riil pertambangan, industri, bahkan SDM kepada si penjajah ekonomi baru.
Kita asyik sekaligus was-was memperhatikan tekanan demi tekanan yang menghempaskan pasar modal / bursa saham seluruh regional. Perusahaan-perusahaan besar bertumbangan, termasuk di dalam negeri. Kita lihat pula tingkah polah otoritas keuangan setiap negara menerapkan kebijakan beraneka ragam untuk menyelematkan ekonomi negaranya masing-masing. Mereka meneriakkan ”Jangan Panik !!”, sementara hati mereka sendiri kecut.
Lehman Brothers sekedar bom besarnya dan seolah menjadi pemicu utama dari krisis finansial yang melanda, karena kharisma dan sejarah yang melegenda serta nilai kehancurannya yang luar biasa. Padahal di seputarnya, banyak lagi perusahaan yang rontok satu demi satu ditumbangkan krisis kredit perumahan.
Sejak awal krisis ini, semua pihak yang bersekutu telah sadar bahwa semua surat utang (MBS, CDO, CDO squared), beserta seluruh asuransi-asuransinya, didasarkan pada Kredit Perumahan yang diberikan kepada mereka yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya (SUB-PRIME). Namun semua pihak yakin hal itu masih bisa ditoleransi karena harga rumah di AS selalu meningkat sejak 1987. Mereka pikir, jika pun gagal bayar, harga rumah yang disita masih lebih tinggi dari kewajiban KPR plus bunganya.
Ketika harga rumah berhenti naik, bahkan turun mulai tahun 2006, satu persatu merasakan dampaknya. Washington Mutual yang memberikan KPR, Fannie Mae & Freddie Mac yang menerbitkan MBS, Lehman Brothers yang menerbitkan CDO (Collaterized Debt Obligation, semacam surat utang yang digunakan untuk men-sekuritisasi surat utang lainnya yang bernama MBS, dimana MBS ini adalah surat utang yang didasarkan pada KPR), AIG yang menyediakan asuransi, dan berbagai lembaga keuangan lainnnya. (Krisis Global Jilid Satu : 2008, Adiwarman A. Karim, Harian Republika, 13 Oktober 2008)
Itulah peradaban yang dibangun dengan ekonomi semu yang menggelembung sangat cepat tanpa fundamental. Tinggal menunggu waktu untuk kempes atau meledak dan membawa kehancuran.
Itulah hasil dari praktik ekonomi yang ditegakkan oleh pilar-pilar Uang Kertas (Fiat Money), Ketentuan Cadangan Minimal di Bank (Fractional Reserve Requirement) dan Bunga (Interest) (A. Riawan Amin, Satanic Finance : True Conspiracies, Celestial Publishing).
Uang yang beredar adalah byte-byte yang ada komputer. Uang-uang itu tidak pernah ada secara nyata. Indikator ekonomi makro itu semu, performa keuangan itu mimpi-mimpi kosong belaka.
Yang lebih lucu lagi adalah ulah ”W” (merujuk film terbaru Oliver Stone tentang biografi George W. Bush, ”W” diambil dari nama tengahnya / Walker), dengan diplomatis mengajak dunia bersatu melawan krisis yang telah dia sponsori sendiri.
Ini seperti melihat seorang anak kecil yang bermain api di dalam rumahnya, yang kemudian api itu membesar dan membakar rumah se-kelurahan, lalu anak kecil itu berteriak ”Lupakan rumah kalian yang terbakar, tolong padamkan api di rumahku ini.”
Maka api itu telah membakar seluruhnya. Tidak ada yang bisa diselamatkan.
Perhatikan dengan seksama, sesungguhnya kita menjadi saksi, bahwa ekonomi ini akan terus meminta korban hingga ia kembali ke fitrah ekonomi Islam yang adil dan seimbang.

Comments

Popular Posts